Developed in conjunction with Joomla extensions.

PM New Zealand Dikirimi Manifesto Pelaku 10 Menit Sebelum Teror Masjid

International
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times
Wellington - Kantor Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengonfirmasi pihaknya menerima salinan 'manifesto' yang ditulis pelaku teror di dua masjid di Christchurch. Salinan 'manifesto' yang isinya menjelaskan alasan serangan itu diterima kurang dari 10 menit sebelum teror dimulai.

Seperti dilansir media lokal The New Zealand Herald, Sabtu (16/3/2019), selain kantor PM Selandia Baru, ada 70 pihak lainnya yang menerima salinan manifesto itu sesaat sebelum teror terjadi di dua masjid -- Masjid Al Noor dan Masjid Linwood -- di Christchurch pada Jumat (15/3) waktu setempat. Salinan itu diterima via email.

Diketahui bahwa tersangka teror di dua masjid itu, Brenton Tarrant (28), sempat memposting secara online sebuah manifesto setebal 87 halaman, yang isinya menyebutkan alasannya melakukan penembakan brutal itu. Manifesto itu berisi pandangan anti-imigran, anti-muslim dan penjelasan mengapa serangan itu dilakukan.


Pihak lainnya yang juga menerima salinan manifesto itu termasuk sejumlah politikus Selandia Baru. Disebutkan bahwa Ketua Partai Nasional Selandia Baru, Simon Bridges dan Ketua Parlemen Selandia Baru, Trevor Mallard masuk dalam daftar penerima manifesto itu.

Diungkapkan juru bicara PM Ardern bahwa kebanyakan penerima manifesto itu adalah media, baik domestik maupun internasional. The New Zealand Herald menyatakan pihaknya tidak ikut menerima manifesto itu.

Menurut juru bicara PM Ardern, manifesto itu disusun seolah-seolah serangan telah terjadi. "Surat itu menyatakan alasannya melakukan serangan itu. Dia tidak menyebut ini hal yang akan dilakukan. Tidak ada kesempatan untuk menghentikannya," sebut juru bicara PM Ardern dalam pernyataannya.

Manifesto pelaku itu dikirimkan ke alamat email resmi PM Ardern. Sang juru bicara menyebut email itu dikelola oleh kantor PM Selandia Baru dan konten-kontennya tidak diterima secara personal oleh PM Ardern.

Dijelaskan juru bicara tersebut bahwa staf kantor PM yang mengurusi email resmi itu mematuhi prosedur standar operasional dan meneruskan email itu ke pihak keamanan parlemen. Pihak keamanan kemudian meneruskannya kepada kepolisian Selandia Baru.

Email milik divisi tur kunjungan parlemen juga ikut menjadi penerima manifesto itu. Lebih lanjut, juru bicara itu menyatakan kantor PM Ardern tidak akan merilis konten, waktu penerimaan maupun subjek email yang berisi manifesto pelaku itu.

"Itu tidak menyatakan apa yang akan dia lakukan. Itu tertulis seolah-olah semuanya telah terjadi, untuk menjelaskan apa yang sebenarnya dilakukan," tandas juru bicara PM Ardern.

Simak Juga ' Cuitan Para Pemimpin Dunia soal Penembakan di New Zealand ':

[Gambas:Video 20detik]


(nvc/fdn)


Sumber: detik.com
Loading...

Developed in conjunction with Joomla extensions.

loading...

Developed in conjunction with Joomla extensions.