Developed in conjunction with Joomla extensions.

Mudik dari Masa ke Masa: Soeharto hingga Jokowi

Nasional
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times
Jakarta - Arus mudik terus meningkat dari tahun ke tahun. Tren mudik dimulai sejak awal Orde Baru karena pembangunan dipusatkan di Jakarta. Bagaimana pemandangan mudik dari masa ke masa?

Berdasarkan catatan detikcom, Minggu (10/6/2018), pemudik pada tahun 1980-an mayoritas menggunakan bus umum. Terminal Pulogadung, Jakarta Timur kala itu menjadi lautan manusia. Mereka ramai-ramai menyerbu bus yang akan membawa mereka ke kampung halaman.


Di stasiun, warga berdesak-desakan agar terangkut naik kereta. Naik atap dan lokomotif mulai lazim kala itu.

Pasca Soeharto turun, pemerintahan transisi belum bisa membangun dengan stabil. Era Habibie, Gus Dur dan Megawati disibukkan dengan transisi politik.

Di masa pemerintahan SBY yang berkuasa selama 10 tahun, mudik mulai dibenahi. Dalam catatan Departemen Perhubungan, sebanyak 16.917.644 orang mudik pada Nopember 2005. Jumlah itu tersebar di Lampung, Jawa Tengah, Banten, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Bali.

Tol Cipularang yang dibuka awal 2005 membuat mudik ke Bandung tidak perlu memutar lewat Puncak-Cianjur. Beban tol Jagorawi berkurang, tapi beban tol Cikampek bertambah. Akibat dibukanya tol Cipularang ini, PT KAI sempat menutup trayek Kereta Api Jakarta-Bandung.



Selama 10 tahun itu, media darling pemberitaan mudik yaitu di Simpang Jomin, Cikampek. Simpang ini menjadi pertemuan kendaraan roda empat yang keluar dari pintu Cikampek menuju Pantura-jalur arteri Karawang.





Selama satu dekade itu pula, pantura menjadi tulang punggung pemudik ke arah Semarang/Solo/Jawa Tengah. Alhasil, jalur Pantura menjadi momok bagi pemudik.

Di jalur selatan, simpul mudik terjadi di Nagreg. Ribuan pemudik terjebak macet dari arah Bandung hanya untuk melewati simpul Nagreg.

Menghadapi ini, Pemerintahan SBY lalu membangun Jalur Lingkar Nagreg pada 2008 dan menggelontorkan sekitar Rp 338 miliar. Dengan rincian, di 2008 sebanyak Rp 60 miliar, di 2009 sekitar Rp 108 miliar, di 2010 sebesar Rp 77 miliar, dan di 2011 sebesar Rp 93 miliar.



Di Jawa Timur, pembukaan jembatan Suramadu memperlancar arus mudik 2009. Efeknya, penyeberangan menggunakan kapal feri langsung turun drastis.

Setelah Pemerintahan Joko Widodo, masalah mudik menjadi target solusi pemerintah. Langkah pertama yaitu dengan mengebut pembangunan Tol Cipali dan diresmikan pada 2015 atau beberapa pekan sebelum lebaran 2015.

Alhasil, pemudik ramai-ramai meninggalkan jalur Pantura. Simpul kemacetan bergeser ke arah timur, menjauh dari titik Jabodetabek.

Sukses menggeser arus macet mudik, pembangunan tol digeber. Tahun 2016, pemudik sudah bisa keluar di Brebes Timur. Sayang, pemerintah tak mengantisipasi animo luar biasa masyarakat untuk mudik sehingga kemacetan berjam-jam tak terelakkan di Brebes Exit (Brexit). Beberapa pemudik dilaporkan meninggal dunia karena terjebak macet.

Setahun setelahnya, Brebes Exit menjadi masa lalu. Sebab, jalan tol sudah diperpanjang hingga Pemalang, meski masih fungsional.

Tahun 2018 ini, pemudik bisa langsung masuk tol di Merak/Jakarta, dan keluar di kota tujuan masing-masing. Seperti Tegal, Pemalang, Semarang, Solo, hingga Surabaya.



Lalu bagaimana dengan Pantura? Kini jalur itu 'dikuasai' pemotor. Mereka dengan nyaman bisa memacu kendaraannya karena tidak harus berebut dengan pemudik mobil roda empat/lebih. Jarak tempuh menjadi lebih cepat.


(asp/rvk)

Sumber: detik.com
Loading...

Developed in conjunction with Joomla extensions.

loading...

Developed in conjunction with Joomla extensions.